23 Agustus 2017

Uji Terbang Kedua N219 Sukses

24 Agustus 2017

Uji terbang kedua pesawat N-219 (all photos : Detik)

Bandung - Pesawat N219 buatan PT Dirgantara Indonesia (DI) dan Lembaga Penerbangan dan Antariksa Nasional (LAPAN) kembali sukses menjalani flight tes (uji terbang) untuk kedua kalinya. Uji terbang kedua ini sebagai rangkaian untuk memenuhi waktu 300 jam yang harus dipenuhi agar mendapat Type Certificate. 

Uji terbang Pesawat N219 kali ini sejatinya disaksikan oleh sejumlah menteri yaitu Menteri Perhubungan, Budi Karya Sumadi, Menteri Ristek dan Dikti, Mohamad Nasir, Menteri Pertahanan, Ryamizard Ryacudu, dan Menteri BUMN Rini Soemarno.


Namun para menteri tersebut tidak jadi hadir lantaran harus melaksanakan rapat bersama Presiden Joko Widodo (Jokowi) di Jakarta. Meski begitu, uji terbang kedua Pesawat N219 tetap berlangsung dan berjalan sesuai rencana. 

Peswat karya anak bangsa ini lepas landas sekitat pukul 09.15 WIB di landasan pacu Bandara Husein Sastranegara, Jalan Pajajaran, Kota Bandung, Rabu (23/8/2017). Selama kurang lebih 30 puluh menit Pesawat N219 terbang berputar-putar di langit Kota Bandung.


Kapten penerbang Esther Gayatri Saleh yang kembali dipercaya untuk menjadi pilot dalam pengujian kedua ini menyatakan semua berjalan dengan baik. Tidak ada satu kendala apapun dari pesawat sehingg dari mulai take off sampai landing tidak ada masalah dan berjalan mulus. 

"Tadi ketinggian pesawat sampai 8.000 meter. Ini ketinggiannya sama seperti waktu tes sebelumnya," kata Esther usai melakukan uji terbang.


Dia menuturkan dari dua kali uji terban yang telah dilakukan pihaknya mengaku telah mendapat sejumlah data untuk mengetahui sejauh mana progres dari Pesawat N219. Tapi dia optimistis tahun depan N219 akan bisa mendapat Type Certificate sesuai dengan yang ditargetkan. 

"Dua flight ini kita nanti dapat data, nanti kita analisa lagi. Seberapa cepat kita akan (lakukan). Tentu ada catatan-catatan (data teknis) yang perlu kita analisa. Kita akan terus collect data. Ada beberapa tes lagi, lalu kita tentukan waktu untuk tes selanjutnya," kata dia.

(Detik)

Australian Navy Picks Thales for Deployable Mine Countermeasures

23 Agustus 2017


Autonomous and remote controlled mine countermeasures (image : Thales)

Deployable Mine Countermeasure Capabilities For Navy

The Royal Australian Navy is forging ahead with new technologies to counter the threat of sea mines to military and commercial vessels.

The Head of Navy Capability, Rear Admiral Jonathan Mead, said the prevalence and increasing sophistication of sea mines means the Royal Australian Navy must continue to improve the way it finds and disposes of these mines.

“New autonomous and remote-controlled technologies deployed from within the maritime task force provides the opportunity to find and dispose of sea mines more safely and efficiently,” Rear Admiral Mead said.

“In the 2030s, Defence will seek to replace its specialised mine hunting and environmental survey vessels with a single fleet of multi-role vessels embarking advanced autonomous and uninhabited systems.”

Rear Admiral Mead said these newly introduced systems are the first step in realising a future capability which would allow the Royal Australian Navy to clear sea mines with minimal risk to its people and assets.

“Thales Australia Ltd will deliver and support the new equipment over the next 15 years,” Rear Admiral Mead said.

The new capability will primarily be based and sustained at HMAS Waterhen in Sydney, New South Wales.

(Aus DoD)

Singapore Acquires AN/TPQ-53 Counter-Fire Target Acquisition Radars

23 Agustus 2017


Singapore has acquired six Lockheed Martin AN/TPQ-53 counter-fire radar systems. Work on the systems is expected to be completed by March 2019 (photo : Lockheed Martin)

The US government has awarded Lockheed Martin a USD63-million firm, fixed-price contract in support of a Foreign Military Sales (FMS) procurement effort of six AN/TPQ-53 counter-fire target acquisition radars destined for Singapore, according to federal contracting documents reviewed by Jane's on 21 August.

The contract – which was signed on 13 April 2017 – includes options that would bring the cumulative value of the order to USD81 million if exercised by the Singapore government. Work on the radar systems is expected to be completed by 13 March 2019, with the US Army Contracting Command-Aberdeen Proving Ground (ACC-APG) in Maryland functioning as the contracting activity.

The AN/TPQ-53 is a solid-state, active electronically scanned array (AESA) radar system that operates in the S-band (2 GHz to 4 GHz) frequency range. The radar is designed to detect, classify, track, and determine the launch points of incoming artillery shells, mortar bombs, and rockets over a 90° sector or the full 360° azimuthal arc.

According to Jane's C4ISR & Mission Systems: Land , the AN/TPQ-53 is capable of detecting artillery shells at a maximum range of 34 km, mortar bombs up to 20 km, and rockets at up to 60 km when operating in the persistent surveillance sector scan mode – although the system can be switched almost instantaneously, with minimal degradation in tracking performance, to rotating mode for detecting all three types of incoming munitions at distances of up to 20 km.

The radar unit itself is 6.93 m long, 2.84 m wide,2.84 m tall, and weighs 8,889 kg. Operated by a four-person crew, it can be deployed within five minutes and taken down within two minutes.

(Jane's)

Helikopter Mi-26T2 Segera Perkuat Jajaran Alutsista TNI AD

23 Agustus 2017


Mi-26T2 Halo (photo : Egor Naumenko)

Kebutuhan helikopter angkut berat tentu tak bisa ditawar untuk menunjang operasional TNI. Setelah sebelumnya menggunakan Mil Mi-17 V5, Puspenerbad TNI AD sebagai elemen kavaleri udara nasional dikabarkan t engah dalam proses menerima helikopter angkut raksasa Mil Mi-26T2 dari Rusia pada tahun 2018 - 2019.


Helikopter angkut berat Mi-26T2 (photo : Kirik)

Dari sejarahnya, Mil Mi-26 mulai dirancang pada awal 1970 oleh biro desain Mil Moscow Helicopter Plant . Dari bobotnya yang ekstra besar dan punya kemampuan mengangkut kargo lewat sling seberat 12 t on, Mi-26T2 awalnya diperuntukkan untuk mendukung pekerjaan konstruksi berat, pembangunan jembatan, dan pemasangan transmisi listrik. Saat memasuki tahap pembuatan, Mi-26T2 diproduksi oleh Rostvertol, yakni dengan terbang perdana pada 14 Desember 1977.



Mil Mi-26T2 juga dikenal sebagai helikopter pertama di dunia yang menggunakan rotor utama dengan delapan bilah baling-baling. Sumber tenaganya dipasok dari dua mesin turboshaft Lotarev D-136 yang masing-masing mesin mampu menghasilkan tenaga 8.500 kW (11.399 shp). Dalam spesifikasinya, helikopter ini tidak dilengkapi dengan persenjataan, dan sudah lumrah bila Mi-26 dalam operasinya mendapat kawalan dari helikopter gunship.

(Majalah Palagan Maret 2017)

TNI AL Bangun Dermaga di Sangihe

23 Agustus 2017


Pulau Sangihe, Sulawesi Utara (image : Google Maps)

Sangihe, Sulawesi Utara (ANTARA News) - Komandan Pangkalan TNI AL Tahuna, Kolonel Pelaut Setyo Widodo, menyatakan, mereka akan segera membangun dermaga di Kabupaten Kepulauan Sangihe.

Menurut dia, di Tahuna, Selasa, pembangunan dermaga TNI AL di sana menjadi kebutuhan untuk kabupaten Sangihe sebab selama ini kapal-kapal perang TNI AL  memakai dermaga pelabuhan sipil jika merapat di sana.

"Sebagai daerah perbatasan Kabupaten Sangihe akan dibangun dermaga khusus untuk armada TNI AL," kata dia.

Rencana pembangunan dermaga kata dia sudah mendapat dukungan dari pemerintah Kabupaten Sangihe yang menyiapkan lahan.

Lahan yang disiapkan pemerintah kabupaten berada di wilayah selatan kepulauan Sangihe. "Kami bersama Bupati Tahuna, Pak Jabes Gaghana, sudah meninjau lokasi yang akan digunakan untuk TNI AL," kata dia.

(Antara)

Myanmar Interested in Purchasing MiG-35s

23 Agustus 2017


MiG-35 fighter (photo : Migavia)

Peru, Myanmar, Bangladesh interested in purchasing MiG-35s

KUBINKA/TASS/. Peru, Myanmar and Bangladesh are interested in the MiG-35 plane, and negotiations with representatives from these countries will be held at the Army-2017 military technical forum, CEO of the MiG aircraft corporation Ilya Tarasenko said on Tuesday in the Patriot Park, Moscow Region.

Russian Defense Ministry plans to begin purchases of MIG-35 fighter jets as of 2018
"We plan to discuss deliveries of MiG-35 planes. We have a lot of negotiations on the agenda. These are our usual regions: CIS, Southeast Asian countries, Myanmar, Bangladesh and Peru," he said.
Tarasenko noted that the talks are currently underway and the corporation expects them to be successful.

The MiG-35 is a 4++ generation multi-role fighter that was designed on the basis of the MiG-29K/KUB and MiG-29M/M2 aircraft. Flight tests for the MiG-35 started on January 26, and an international presentation of the plane was held on January 27 in the Moscow Region.

(TASS)

22 Agustus 2017

Menhan Targetkan 11 Jet Sukhoi SU-35 Mengudara 2019

22 Agustus 2017


Pesawat tempur Su-35 (photo : Kirill Mess)

VIVA.co.id – Menteri Pertahanan, Ryamizard Ryacudu menyatakan pihaknya saat ini masih terus mematangkan rencana kontrak kerjasama pembelian 11 unit pesawat jet tempur Sukhoi Su-35. Jet tempur buatan Rusia tersebut diproyeksikan untuk memperkuat pertahanan dan keamanan di Indonesia.

"Kurang lebih dua tahun setelah tanda tangan kontrak (jual-beli dengan Rusia)," kata Ryamizard di Kantor Menteri Pertahanan Republik Indonesia, Jalan Medan Merdeka Barat, Jakarta Pusat, Selasa 22 Agustus 2017.

Ia menambahkan, pada tanggal 10 Agustus 2017 lalu, Menteri Perdagangan Enggartiasto Lukita sudah berkunjung ke Rusia. Dalam kunjungan tersebut, sudah ada kesepakatan terkait rencana pembelian 11 Sukhoi Su-35 dengan skema imbal beli antar dua negara.

"Kita beli pesawat dari Rusia, Rusia beli komoditas ekspor dari kita. Dan itu sudah disepakati bersama Menteri Perdagangan Pak Enggartiasto langsung di Rusia," lanjut mantan KSAD tersebut.

Kemudian, ia menambahkan, dalam waktu dekat Kemenhan akan kembali bertemu dengan Pihak Rusia untuk menindaklanjuti kesepakatan pembelian dengan skema imbal beli tersebut. Diharapkan dua tahun lagi atau pada 2019, 11 jet Sukhoi tersebut sudah ada di Indonesia.

"Minggu ini atau bulan depan saya ke sana. Setelah tandatangan kontrak, datang ke Indonesia dua tahun lagi. Kan kita mau buat yang baru, bukan yang bekas," tuturnya. (Viva)

Skema Imbal Beli SU-35 Indonesia-Rusia, Tingkatkan Pertahanan dan Ekspor Nasional

Jakarta, Pemerintah Republik Indonesia dan Rusia sepakat melakukan imbal beli dalam pengadaan alat peralatan pertahanan keamanan (Alpalhankam) berupa pesawat tempur Sukhoi Su-35 yang dibutuhkan oleh Kementerian Pertahanan Indonesia. Nilai pembelian Su-35 yang mencapai USD 1,14 miliar ini memberikan potensi ekspor ke Rusia bagi Indonesia sebesar 50% dari nilai pembelian tersebut, atau senilai USD 570 juta. Hal ini disampaikan Menteri Pertahanan Ryamizard Ryacudu dan Menteri Perdagangan Enggartiasto Lukita pada Konferensi Pers Bersama yang berlangsung hari ini, Selasa (22/8) di Kantor Kementerian Pertahanan, Jakarta.

Pesawat tempur Su-35 (photo : TASS)

Pemerintah Indonesia berkeinginan untuk membeli pesawat Su-35 dari Rusia dengan nilai USD 1,14 miliar. Pembelian pesawat ini untuk menggantikan pesawat F-5 guna meningkatkan pertahanan dan keamanan di dalam negeri.

Dalam UU No.16 tahun 2012 tentang Industri Pertahanan. Pada pasal 43 ayat 5 (e) dinyatakan bahwa setiap pengadaan Alpalhankam dari luar negeri wajib disertakan imbal dagang, kandungan lokal dan ofset minimal 85% dimana Kandungan lokal dan/atau ofset paling rendah 35%. Karena pihak Rusia hanya sanggup memberikan ofset dan lokal konten sebesar 35%, maka Indonesia menegaskan kembali bahwa pembelian Su-35 ini dibarengi dengan kegiatan imbal beli yang nilainya 50% nilai kontrak.

Pemerintah Indonesia membeli Su-35 dari Rusia dan Rusia sebagai negara penjual berkewajiban membeli sejumlah komoditas ekspor Indonesia.

Dengan skema imbal beli tersebut, Indonesia mendapat potensi ekspor sebesar 50% dari nilai pembelian Su-35. “Persentase dalam pengadaan Su-35 ini yaitu 35% dalam bentuk ofset dan 50% dalam bentuk imbal beli. Dengan demikian, Indonesia mendapatkan nilai ekspor sebesar USD 570 juta dari USD 1,14 miliar pengadaan Su-35,” jelas Mendag.

Kesepakatan ini ditandatangani pada 10 Agustus 2017 lalu, saat pelaksanaan Misi Dagang ke Rusia yang dipimpin oleh Mendag. Pemerintah Rusia dan Indonesia sepakat menunjuk Rostec dan PT. Perusahaan Perdagangan Indonesia (PPI) sebagai pelaksana teknis imbal beli tersebut. Dalam MoU tersebut Rostec menjamin akan membeli lebih dari satu komoditas ekspor, dengan pilihan berupa karet olahan dan turunannya, CPO dan turunannya, mesin, kopi dan turunannya, kakao dan turunannya, tekstil, teh, alas kaki, ikan olahan, furnitur, kopra, plastik dan turunannya, resin, kertas, rempah-rempah, produk industri pertahanan, dan produk lainnya. “Dengan imbal beli ini, Indonesia dapat mengekspor komoditas yang sudah pernah diekspor maupun yang belum diekspor sebelumnya,” jelas Mendag.

Pihak Rostec, lanjut Mendag juga diberikan keleluasaan untuk memilih calon eksportir sehingga bisa mendapatkan produk ekspor Indonesia yang berdaya saing tinggi. “Mekanisme imbal beli ini selanjutnya menggunakan working group yang anggotanya berasal dari Rostec dan PT. PPI,” imbuh Mendag.

See full article Kemhan