24 Juli 2014

Details Emerge of Vietnam's C295 Purchase

24 Juli 2014


Airbus Military C295 aircraft (photo : Brian Pace Malta)

The three C295 transport aircraft that Vietnam has ordered from Airbus Defence and Space (DS) are scheduled to enter service with the Vietnamese air force from 2015, IHS Jane's understands.

The purchase contract - thought to be secured in 2013 at a cost of about USD100 million - also includes the supply of spares, maintenance, and training to the air force, which is expected to take delivery of the aircraft at intervals of about six months.

It is also understood that the aircraft are being sold to Vietnam in a basic transport configuration with no additional mission systems included. Airbus DS's production of Vietnam's first C295 aircraft, which is currently under way in Seville, Spain, was revealed by IHS Jane's in June, although contract details have not previously been disclosed.

(Jane's)

KRI Sultan Thaha 376 Dipasangi Meriam Type 730 CIWS

24 Juli 2014


 Meriam Type 730 CIWS buatan China (photo : militaryphotos)

KRI Jajaran Koarmabar Laksanakan Retrofit Meriam 30 mm 7 Barrels dan Sewaco

Kapal Perang Republik Indonesia (KRI) Sultan Thaha Syaifuddin (STS-376) salah satu KRI jajaran Satuan Kapal Eskorta Komando Armada RI Kawasan Barat (Satkor Koarmabar) secara resmi mulai melaksanakan pengerjaan pemasangan (Retrofit) meriam 30 mm 7 barrels berikut peralatan Sensor Weapon Command (Sewaco) baru dari Cina, bertempat di PT PAL, Surabaya, Selasa (22/7).

Guna kelancaran pengerjaan pemasangan Meriam 30 MM 7 barrels, Komandan KRI Sultan Thaha Syaifuddin-376, Letkol Laut (P) Ario Sasongko, S.E., M.P.M., melaksanakan acara berbuka puasa bersama sekaligus pengajian dan pemotongan tumpeng, di Lounge Room Bintara KRI Sultan Thaha Syaifuddin-376. Sementara itu, saat acara potong tumpeng, Komandan KRI STS-376 secara simbolis menyerahkan potongan tumpeng kepada Tamtama termuda. Turut hadir dalam acara tersebut, Pjs Komandan KRI STS, Mayor Laut (P) Toni Soemarno, S.E., KKM Mayor Laut (T) M. Irwan Ridhwan, Palaksa Kapten Laut (P) Denny Firdian, beserta seluruh Perwira, Bintara dan Tamtama KRI STS-376.

KRI Sultan Thaha Syaifuddin 376 (photo : Kaskus Militer)

Dalam kesempatan tersebut, Komandan KRI STS-376  yang merupakan alumnus Armed Forces of Philippines Command and General Staff College ini memberikan penekanan, di antaranya yaitu untuk selalu memohon petunjuk dan bimbingan dari Allah SWT di dalam setiap langkah dan tindakan, serta tetap meningkatkan kewaspadaan dan purba jaga di dalam pelaksanaan pemasangan meriam baru ini, memahami dan melaksanakan tugas secara profesional, proporsional dan penuh tanggung jawab, jangan sampai lengah serta senantiasa melaksanakan pengecekan ulang terhadap seluruh ruangan-ruangan guna mengantisipasi bahaya kebakaran maupun kebocoran.

Berkaitan dengan hal tersebut, diharapkan seluruh rangkaian kegiatan pemasangan meriam baru ini dapat dikerjakan dengan sebaik-baiknya. Dengan demikian, seluruh ilmu pengetahuan yang telah diperoleh personel KRI STS-376 selama menjalani training di China baru-baru ini dapat diaplikasikan di dalam mengoperasikan maupun merawat semua alutsista yang dipasang meriam dan peralatan sensor jenis tersebut.

Selanjutnya, Komandan KRI STS-376 menambahkan bahwa dengan adanya pemasangan meriam dan peralatan sensor yang baru ini, akan meningkatkan kemampuan tempur KRI STS-376 sebagai salah satu unsur KRI di jajaran Satkor Koarmabar.

(Armada Barat)

Gazmin, Canada Trade Chief Talk Defense, $105M Chopper Deal

24 Juli 2014


Bell Helicopter Textron Canada UH-1 helicopter (photo : militaryphotos)

MANILA, Philippines — Defense Secretary Voltaire Gazmin and Canadian Trade Minister Edward Fast discussed the two countries' increasing defense cooperation as well as a helicopter project.

Gazmin and Fast highlighted the recently signed contract for $105 million (P4.5 billion) for firm Bell Helicopter Textron Canada Ltd.  to supply eight specialized helicopters for the Philippine armed forces.

"This contract is an outcome of the Memorandum of Understanding between the Canadian Commercial Corporation and the Department of National Defence of the Philippines," a statement released by the Foreign Affairs, Trade and Development Canada said.

The agency said Fast expressed Canada's continuing interest in  assisting the Philippines advance its defense and security agenda.

The Philippines is gearing to attain a minimum credible defense posture especially in the maritime domain amid concerns on China's increasing militarization in Philippine-claimed areas in the South China Sea.

In February, the Philippines and Canada also signed an agreement seeking to improve capabilities of Filipino soldiers by providing them training opportunities.

Another Canadian firm, Eagle Copters Ltd. in a joint venture with American company Rice Aircraft Services Inc., bagged a deal with Manila to supply UH-1 combat utility helicopters in December 2013.

The Canadian minister, meanwhile, said that the deal highlights Canada's capabilities as manufacturer and supplier in the defense and security sector.

Fast led a trade mission in the Philippines from July 21 to 22, focusing in opportunities in agriculture, defense, information and communications technology sectors.

(PhilStar)

Myanmar Navy and Indonesia's PT PAL in LPD talks

24 Juli 2014


PAL LPD 125 (photo : PAL)

The Myanmar Navy (MN) and Indonesian naval shipbuilder PT PAL are in talks over the MN's potential purchase of landing platform docks (LPDs) to bolster sealift and amphibious capabilities, IHS Jane's understands.

The two parties have recently entered what have been described to IHS Jane's as "preliminary discussions" about the MN's acquisition of a small number of vessels based on PT PAL's Makassar-class LPD, which in turn is based on a design by South Korea's Dae Sun Shipbuilding and Engineering.

PT PAL has delivered five Makassar-class LPDs to the Indonesian Navy and in June signed a contract to supply the Philippine Navy (PN) with two LPDs based on the same design.

(Jane's)

23 Juli 2014

Flight F-16 C/D TNI AU Tiba di Guam Menuju Tanah Air

23 Juli 2014

F-16 C/D TNI AU (all photos : TNI AU)

Akhirnya tiga pesawat F-16 C/D 52ID TNI AU dengan call sign "Viper Flight," dari  Eielson AFB (Air Force Base) Alaska berhasil mendarat dengan selamat di Andersen AFB Guam. Pesawat tinggal landas dari Eielson AFB pada tanggal 22/7 pukul 11.14 waktu Alaska (tgl.22/7 pukul 02.00 WIB) dan mendarat di Guam pada pukul 15.00 waktu Guam (tgl 23 pukul 12.00 WIB). Pesawat leader adalah sebuah F-16 C dengan nomer TS 1625 yang diterbangkan Col. Howard  Purcel,  pesawat kedua adalah sebah pesawat F-16 D dengan nomer TS 1620 yang diawaki Maj Collin Coatney / Ltk.Firman Dwi Cahyono dan pesawat terakhir juga sebuah F-16 D dengan nomer TS 1623 yang diawaki Ltc. Erick Houston/ May.Anjar Legowo.

Viper Flight telah menempuh perjalanan dari Eielson AFB Alaska meneuju Andersen AFB Guam  selama 9 jam 46 menit dengan dikawal pesawat tanker KC-10 dari Travis AFB. Semula flight terbang pada ketinggian 25.000 kaki dengan kecepatan 0.75 MN (Mach Number) atau sekitar 450 KTAS (Knots True Air Speed) melewati Samudra Pasifik yang luas. Namun penerbangan terpaksa naik keketinggian 27.000 kaki untuk menghindari awan dan turbulensi. Selanjutnya pada dua jam terakhir kecepatan terpaksa ditambah agar tiba sesuai rencana. Selama perjalanan telah dilaksanakan 9 kali air to air refueling. Saat mendarat dalam kondisi hujan ringan (light rain) namun setelah landing menjadi cukup lebat (shower rain).

Setelah sebelumnya tertahan selama 5 hari di Eielson karena kerusakan pada pesawat tanker maka besok tanggal 23 Juli akan dilaksanakan penerbangan leg terakhir dari Guam langsung menuju Lanud Iswahyudi Madiun dengan rencana waktu tempuh 5 jam 16 menit. Ketiga pesawat direncanakan  akan mendarat pada pukul 11.16 di Lanud Iswahjudi Madiun pada tanggal 24 Juli 2014, dan akan diterima oleh Kepala Staf Angkatan Udara dan pejabat teras TNI AU dan Kemhan untuk selanjutnya akan langsung diparkir di hangar Skadron Udara 3 “The Dragon Nest” untuk inspeksi.



Setelah libur Idul Fitri maka  enam instruktur penerbang F-16 akan mulai melanjutkan latihan terbang konversi F-16 C/D nya di Lanud Iswahyudi Madiun mulai bulan Agustus 2014 dibawah supervisi empat instruktur penerbang  dari US Air Force Mobile Training Team. Rencananya pesawat-pesawat ini akan menjalani modifikasi pemasangan peralatan drag chute karena konfigurasi awal pesawat F16C/D-52ID tidak dilengkapi dengan drag chute (rem payung) yang dilakukan tehnisi TNI AU dibantu personil Lockheed Martin pada kuartal pertama 2015.

Seluruh pesawat sebelumnya menjalani upgrading dan refurbished rangka “airframe” serta modernisasi sistem “avionic” dan persenjataan di Ogden Air Logistics Center Hill AFB, Utah.    Rangka pesawat diperkuat, cockpit diperbarui, jaringan kabel dan elektronik baru dipasang, semua system lama di rekondisi atau diganti menjadi baru dan mission computer canggih baru sebagai otak pesawat  ditambahkan agar lahir kembali dengan kemampuan jauh lebih hebat dan ampuh.

Modernisasi dan upgrade avionic dan engine pesawat dilaksanakan untuk  meningkatkan kemampuan menjadi setara dengan F-16 block 50/ 52, khususnya dengan pemasangan “otak dan syaraf”  pesawat yaitu  Mission Computer MMC- 7000A versi M-5 yang juga dipakai Block 52+, demikian pula radar AN/APG-68 (V) ditingkatkan kemampuan sesuai system baru yang dipasang. Juga Improved Modem Data Link 16 untuk komunikasi data canggih,  Embedded GPS/ INS (EGI) block-52  yang menggabungkan fungsi  GPS dan INS dan berguna untuk penembakan JDAM (Bomb GPS),  Electronic Warfare Management System AN/ALQ-213,  Radar Warning Receiver ALR-69 Class IV serta Countermeasures Dispenser Set ALE-47 untuk melepaskan  Chaffs/ Flares anti radar/anti rudal.   



Untuk seluruh mesin pesawat  tipe   F100-PW-220/E  telah menjalani  upgrade menjadi baru kembali, khususnya dengan pemasangan system DEEC (Digital Electronic Engine Computer) baru dan Augmentor Engine baru yang usia pakainnya dua kali lebih lama.

Dalam urusan pertempuran udara  pesawat ini cukup handal karena disamping lincah  F-16 C/D 52ID TNI AU juga juga dilengkapi rudal jarak pendek AIM-9 Sidewinder L/M/X dan IRIS-T  (NATO) serta rudal jarak sedang AIM-120 AMRAAM-C .  Untuk menyerang sasaran permukaan dilengkapi kanon 20 mm, bomb standar MK 81/ 82/ 83/ 84, Laser Guided Bomb Paveway, JDAM (GPS Bomb), Bom anti runway Durandal, rudal AGM-65 Maverick K2, rudal AGM-84 Harpoon (anti kapal), rudal AGM-88 HARM (anti radar),  Improved Data Modem Link 16, Head Up Display layar lebar terbaru yang kompatibel dengan Helmet Mounted Cueing System dan Night Vision Google. Pesawat juga dilengkapi navigation dan targeting pod canggih seperti Sniper/ Litening untuk operasi tempur malam hari serta mampu melaksanakan missi Supression Of Enemy Air Defence (SEAD) untuk menetralisir pertahanan udara musuh.

TNI Angkatan Udara merencanakan armada baru F-16 C/D 52ID ini akan melengkapi Skadron Udara 3 Lanud Iswahjudi Madiun dan Skadron Udara 16 Lanud Rusmin Nuryadin Pekanbaru. Dilengkapi kemampuan sistem avionic canggih dan senjata udara modern serta keunggulan daya jangkau operasi membuat  pesawat ini sanggup untuk menghadang setiap penerbangan gelap atau menghantam sasaran,  baik di luar atau dalam wilayah kedaulatan kita, pada saat siang atau malam hari. Pengalaman dan pemahaman dari aplikasi penggunaan tehnologi perang udara modern yang didapat dalam pengoperasian F-16 CD 52ID niscaya akan membantu kita untuk memperbaiki perencanaan, pengadaan, pelatihan serta doktrin dan taktik perang udara TNI AU. 

Diharapkan pada saat pesawat tempur masa depan IFX sudah siap dioperasikan maka berbagai prosedur, taktik, pengalaman dan ilmu pengetahuan yang didapat dari pengoperasian pesawat F-16 C/D 52ID bisa  kita terapkan untuk menyamai dan bahkan mengungguli kekuatan udara calon lawan dan pesaing negara kita.  Pesawat-pesawat canggih ini akan  menambah kekuatan tempur  TNI Angkatan Udara sebagai tulang punggung Air Power (Kekuatan Dirgantara) Negara kita demi  menjaga Keamanan Nasional Indonesia.

(TNI AU)

US to Give C-130 Planes to Philippines

23 Juli 2014


USAF C130 Hercules (photo : avioners)

MANILA, Philippines — The United States will give two Lockheed C-130 "Hercules" planes to the Philippines, newly appointed Armed Forces of the Philippines (AFP) chief-of-staff Lt. Gen. Gregorio Pio Catapang revealed.

In a state report, Catapang disclosed the impending donation in a visit to the 1st Air Division headquarters in Clark Field, Pampanga, citing American military officials.

"I just talked to our US counterparts [and] they told us they are making available another two C-130s to address our humanitarian assistance disaster relief concerns," Catapang said.

The United States military has deployed a humanitarian mission to the Visayas after the onslaught of deadly typhoon Yolanda, which took thousands of lives and destroyed countless homes.

Catapang said that the Americans extended the offer after learning of President Aquino's plans to acquire new cargo aircrafts for the military.

The existing C-130 planes of the Air Force figured heavily in the transport of relief goods for victims of typhoon Yolanda and equipment needed by government troops involved in the efforts last year.

In November last year, former AFP chief Gen. Emmanuel Bautista announced that the country seeks to procure two more C-130 planes to improve disaster relief operations.

"We are in the process of acquiring two more C-130s. As you very well know, we only have three C-130s. In terms of strategic lift, C-130s are very important," Bautista said.

Ideally, he said the Philippine Air Force should have at least nine C-130s.

(PhilStar)

Australia Seeks Participation in Kongsberg's JSM

23 Juli 2014


Kongsberg Group Joint Strike Missile (JSM) (image : devotek)

Australia is seeking expanded engagement in Norway's air-launched anti-ship Kongsberg Joint Strike Missile (JSM) programme, the Department of Defence (DoD) in Canberra confirmed to IHS Jane's on 21 July.

The collaboration project is framed around both countries' participation in the Lockheed Martin F-35 Lightning II Joint Strike Fighter programme. The JSM has been conceived as a precision-strike missile specifically designed for the internal carriage in F-35A and F-35C variants of the aircraft.

A spokesman from the DoD said that although Australian industry has previously participated in the JSM programme, new rounds of discussions between the two countries are focused on potentially expanding collaboration with a focus on the missile's integration onto the F-35.

(Jane's)