03 Maret 2015

First Group of RTA Pilots and Technicians Completed UH-72A Lakota Conversion Course

03 Maret 2015


6 pilots and 10 technicians from RTA ready to operate UH-72A Lakota (photo : HeliOpsMag)

Six pilots and 10 maintenance technicians from the Royal Thai Army have successfully completed training to fly and maintain the UH-72A Lakota, the initial group of Thai pilots and aircraft maintenance technicians that will be trained to operate Lakotas for Thailand.

The Thai pilots and technicians were honored Friday in a graduation ceremony at Airbus 
Helicopters Inc. in Grand Prairie, where they underwent several weeks of comprehensive 
classroom and simulator instruction as well as flight training in the UH-72A. A second group 
of Thai pilots is now on site undergoing flight training in the Lakota. 

“Our team is honored to have the opportunity to train the Royal Thai Army pilots and 
technicians to operate the Lakota and perform important missions for their country,” said 
Marc Paganini, President and CEO of Airbus Helicopters Inc. 

Airbus Helicopters has produced six UH-72As for the Royal Thai Army. Those helicopters 
have been delivered to the U.S. Army, which will later this year transfer the Lakotas to 
Thailand. The six Lakotas were ordered from Airbus Group by Thailand through the U.S. 
Army in April 2014, the first foreign military sale of the UH-72A. The U.S. government has 
offered Thailand the opportunity to purchase an additional nine Lakotas.

(HeliOpsMag)

Vietnam-Funded Repair Workshop Opens in Cambodia

03 Maret 2015


The Royal Cambodian Army operates BMP=1 and total about 200 Soviet industries' T-54/T-55 MBTs and NORINCO Type 59 MBTs. (all photos : TienPhong)

A repair workshop for tanks and armoured vehicles, constructed with funding from Vietnam’s Ministry of Defence, was inaugurated and commissioned in Battambong province, Cambodia on February 27. 

Speaking at the launching ceremony, Commander of the Cambodian Royal Army General Meas Sopheas hailed the effective assistance of the Vietnamese ministry for its Cambodian counterpart across sectors, enabling Cambodia’s army to meet the defence and security demands of the country. 

The inauguration of the workshop is expected to support the Cambodian army in maintaining, repairing and upgrading equipment and military weapons, ultimately contributing to improving its capacity, said Meas Sopheas.



The workshop’s construction required 80,000 USD, sourced from a 2.4-million USD aid package for basic construction funded by the Vietnamese Ministry of Defence as part of the cooperation protocol between the two ministries in 2014. 

Colonel Nguyen Anh Dung, Vietnamese defence attaché to Cambodia, said the Vietnamese ministry plans to increase basic construction assistance for its Cambodian counterpart to 3 million USD in 2015.

Last year, Vietnam provided 21 million USD to Cambodia in defence aid, Dung noted.-

(VietNamPlus)

Armed AW-109s to be Commissioned During Navy's 117th Anniversary

03 Maret 2015


Armed AW-109 Power of the PN (photo : timawa)

MANILA (PNA) -- The Philippine Navy (PN) has announced that its two armed AgustaWestland AW-109 "Power" helicopters will be commissioned during its 117th anniversary on May 27.

"We're hoping to commission them by our anniversary this May," Navy spokesperson Col. Edgard Arevalo said in a message to the PNA on Sunday.

The two armed AW-109 airframes arrived in the country last December as part of the five-helicopter deal, worth PhP1.33 billion, signed by the Philippines with AgustaWestland in early 2013.

Three of the AW-109s were delivered and commissioned on Dec. 22, 2013.

The armed versions of the AW-109s will be armed will have machine guns, 20mm cannons and possibly with air-to-ground rockets.

The AW-109 "Power" helicopter is a three-ton class eight-seat helicopter powered by two Pratt and Whitney PW206C engines.

The spacious cabin is designed to be fitted with a number of modular equipment packages for quick and easy conversion between roles.

The aircraft’s safety features include a fully separated fuel system, dual hydraulic boost system, dual electrical systems and redundant lubrication and cooling systems for the main transmission and engines.

The AW-109 has established itself as the world’s best selling light-twin helicopter for maritime missions.

Its superior speed, capacity and productivity combined with reliability and ease of maintenance make it the most cost effective maritime helicopter in its class.

For shipboard operations, the aircraft has a reinforced-wheeled landing gear and deck mooring points as well as extensive corrosion protection measures.

The ability to operate from small ships in high sea state enables the AW-109 to perform its mission when many others helicopters would be confined to the ship’s hangar.

Over 550 AW-109 "Power" and AW-109 light utility helicopters have been ordered for commercial, parapublic and military applications by customers in almost 50 countries. 


(PNA)

02 Maret 2015

TNI AU Berikan Tanggapan Mengenai Tawaran Pesawat Typhoon

02 Maret 2015

Pesawat EF-2000 Typhoon AU Spayol (photo : Richard Sanchez0

TNI AU Inginkan Pesawat Tempur Generasi 4,5

JAKARTA, KOMPAS — Tentara Nasional Indonesia Angkatan Udara menyerahkan keputusan penggantian pesawat tempur F5 yang akan habis masa pakainya kepada Kementerian Pertahanan. Namun, TNI AU menyatakan, pertimbangan efek gentar menjadi penekanan utama dalam pengadaan alat utama sistem persenjataan TNI AU.

"Kami inginkan pesawat tempur generasi 4,5 karena pertimbangan deterrence effect (efek gentar) dan luasnya wilayah Indonesia," kata Kepala Dinas Penerangan TNI AU Marsekal Pertama Hadi Tjahjanto, Minggu (1/3). 

Hadi mengatakan, beberapa waktu lalu, Duta Besar Spanyol untuk Indonesia Fransisco Jose Viqueira Niel bertemu dengan Kepala Staf TNI AU Marsekal Agus Supriatna. "(Dalam pertemuan itu) sempat disinggung soal Eurofighter Typhoon," katanya. 

Dalam pertemuan dengan wartawan pekan lalu, Fransisco mengatakan, konsorsium negara-negara Eropa pembuat pesawat jet tempur Eurofighter menawarkan pesawat itu kepada Indonesia. Menurut dia, teknologi yang dimiliki Typhoon cocok untuk Indonesia dan mesinnya tidak perlu diganti dalam jangka panjang. Namun, harga pesawat itu lebih mahal dibandingkan dengan pesaing terdekatnya, yaitu Sukhoi Su-35 buatan Rusia.

"Keunggulan Eurofighter adalah mesinnya seumur hidup, tak perlu mengganti mesin. ?Pesawat lain perlu mengganti dua atau tiga kali," kata Fransisco.

Fransisco mengatakan, pihaknya bersedia bekerja sama dengan Indonesia dalam bentuk transfer teknologi, termasuk soal elektronik dan avionik pesawat. Paket transfer teknologi menjadi keharusan untuk pembelian pesawat tempur saat ini. 

"Indonesia sedang membuat pesawat tempur IFX, kami bisa ikut kontribusi teknologi di dalamnya," kata Fransisco yang mewakili Spanyol, Inggris, Italia, dan Jerman.

Kebiasaan

Terkait dengan transfer teknologi, Hadi mengakui selama ini Indonesia banyak bekerja sama dengan perusahaan Spanyol, CASA, seperti dalam pembuatan N 295. Namun, ia mengatakan, ada banyak pertimbangan dalam pengadaan pesawat tempur selain transfer teknologi, seperti efek gentar di kawasan. 

TNI AU membutuhkan jenis pesawat tempur yang heavy fighter (pesawat tempur berat). TNI AU tak menunjuk langsung merek pesawat tempur yang diinginkan. Namun, faktor kebiasaan di mana banyak pilot TNI AU telah terbiasa dengan jenis pesawat tertentu perlu menjadi pertimbangan dalam pembelian pesawat itu. "Kita juga butuh pesawat yang mampu mengangkat beban seperti senjata dan bahan bakar dalam jarak jauh dengan generasi baru, yaitu generasi 4,5," kata Hadi.

Catatan Kompas, ada sejumlah pesawat yang sempat disebut sebagai pengganti F 5E/F Tiger yang telah beroperasi sejak era 1980-an. Selain Eurofighter Typhoon, kandidat itu adalah Sukhoi Su-35, JAS-39 SAAB Gripen, dan F16 Block 52. Indonesia pertama kali membeli Sukhoi tahun 2003 saat Megawati Soekarnoputri menjadi presiden.

(Kompas)

12 Boats For ESSCom From U.S.

02 Maret 2015


Malaysia will get 12 boats from US (photo : gocoastguard)

SANDAKAN (Bernama) -- The Eastern Sabah Security Command (ESSCom) would be getting 12 boats from the United States of America to boost its asset strength.

Defence Deputy Minister Datuk Abdul Rahim Bakri said the contribution followed a number of agreements signed between Malaysia and the U.S. last year.

The agreements were signed during U.S. President Barack Obama's visit to the country, he told reporters after visiting the Pulau Berhala army camp near here, Saturday.

He said the boats were currently being modified according to the specifications required by ESSCom.

Abdul Rahim, who is also Kudat member of parliament, said a proposal to build an army camp in Kudat, under the 11th Malaysia Plan, was also being considered.

"Hopefully, we can secure an allocation for it, and further reinforce ESSCom's defence," he said.

(Bernama)

Hyundai Menawarkan Kapal Selam HDS-500RTN Kepada Thailand

02 Maret 2015


Ruang presentasi HHI saat menawarkan kapal selamHDS-500RTH kepada Royal Thai Navy (photo : TAF)

Hyundai Heavy Industry atau HHI menawarkan kapal selam tipe HDS-500RTN kapal Angkatan Laut Thailand pada tanggal 27 Februari.

Setelah sebelumnya Daewoo Shipbuilding and Marine Engineering (DSME) asal Korea Selatan mengajukan kapal selam kelas Type-209 untuk dipertimbangkan Angkatan Laut Thailand, pada kesempatan ini perusahaan asal Korea Selatan yang lain yaitu HHI juga menawarkan kapal selam kepada Royal Thai Navy.


Kapal selam HDS-500 (photo : Militaryphotos)

Perlu dicatat bahwa kapal selam Type-209/Mod yang diajukan oleh DSME diusulkan juga kepada Angkatan Laut Thailand  oleh ThyssenKrupp Marine Systems (TKMS) dari Jerman. Thailand berharap bahwa kapal selam yang ditawarkan ada wujud fisiknya dan dipakai oleh Angkatan Laut. Dari sisi ini Type-209/Mod buatan DSME sebenarnya cukup memenuhi, namun tidak mungkin bersaing dengan ThyssenKrupp Marine Systems dengan lambung kapal selam Type-209 yang sama walaupun dengan hak cipta masing-masing.

Di sisi lain HHI yang telah mengusulkan kapal selam HDS-500 kepada Angkatan Laut Thailand belum ada informasi mengenai penggunaannya oleh Angkatan Laut Korea Selatan, juga tidak muncul informasinya di situs HHI. Kapal selam ini baru taraf pengembangan dan mulai ditawarkan sebagai alternatif untuk Angkatan Laut negara lain, tetapi belum menemukan pelanggan, sama halnya dengan Amur buatan Rusia.


Kapal selam HHI KSS-500A (photo : Militaryphotos)

Sejak 2011 Agency for Defence Development (ADD), yang diatur oleh Defense Advanced Research milik pemerintah Korea Selatan telah meluncurkan program kapal selam KSS-500A, sebuah kapal selam kecil yang dapat menggantikan kapal selam kelas kecil kelas Dolgorae di Korea Selatan yang tahun lalu juga diberitakan bahwa HHI mengembangkan kapal selam kecil. Mungkin kapal selam HDS-500RTN dikembangkan dari KSS-500A itu, jika ini benar maka merupakan pilihan kapal selam paling kecil untuk armada RTN saat ini. Perahu ini mungkin memiliki bobot 510 ton dengan kemampuan jelajah secara terus menerus sejauh 2.000 mil laut selama 21 hari, kecepatan maksimum 20 knot dan kedalaman maksimum 250 meter, kapal ini mempunyai awak sekitar 10 orang.

(TAF)

28 Februari 2015

Program Modernisasi TNI AL Masih Berlanjut

01 Maret 2015


Kapal hidro oseanografi terbaru TNI AL (photo : Cabaude)

Program modernisasi alutsista TNI AL terus berlanjut. Modernisasi alutsista ini guna mendukung agenda pemerintahan Jokowi-JK menjadikan Indonesia sebagai poros maritim dunia. 

KASAL Laksamana Ade Supandi mengatakan hal itu dalam acara ramah-tamah dengan Jurnalis di Mabes TNI AL Jakarta, Jumat (27/2). Ade mengatakan, dia terus melanjutkan beragam program yang dirintis Laksamana (Purn) Marsetio.


Design kapal layar pengganti KRI Dewaruci (image : OliverDesign)

"Kapal selam sudah bisa bersandar di pangkalan kapal selam di Teluk Palu, Sulawesi Tengah. Perlengkapan pendukung berteknologi tinggi sedang diselesaikan. Pengadaan kapal-kapal baru terus dilanjutkan, seperti kapal hidro oseanografi hingga kapal latih pengganti KRI Dewaruci," kata Ade. 

Ade menjelaskan kapal hidro oseanografi buatan Perancis akan berlayar ke Indonesia pada April 2015. Kapal itu dijadwalkan tiba di Tanah Air sekitar Juni 2015. 


Kapal LST KRI Teluk Bintuni (photo : Saibumi)

TNI AL juga membangun kembali kapal latih pengganti KRI Dewaruci dengan model yang sama. Kapal bertiang layar tinggi sepanjang 78 meter tipe Brigantine, lebih panjang 20 meter dari Dewaruci, dibangun di galangan kapal di Spanyol dan diperkirakan selesai pada 2017. 

Sementara KRI Dewaruci akan menjadi museum terapung sebagai penghormatan atas tradisi maritim Indonesia. Kapal-kapal perang lain turut dibangun, seperti KRI Teluk Bintuni untuk mengangkut MBT Leopard di galangan kapal dalam negeri.


Kapal Cepat Rudal KCR-60 (photo : Joko Sulistiyo)

Ade meminta jajaran TNI AL tetap terbuka kepada media masa dan terus membangun kepercayaan publik terhadap profesionalitas mereka. TNI AL siap menegakkan kedaulatan Indonesia di Lautan, termasuk penanganan pencurian ikan oleh kapal asing.  

Ekspansi Pindad  

BUMN produsen kendaraan tempur, persenjataan, dan amunisi yang berbasis di Bandung Jawa Barat, PT Pindad, fokus mengembangkan amunisi kaliber besar. Program ini bertujuan mengurangi ketergantungan kepada luar negeri dalam teknologi Industri pertahanan hingga menghadapi persaingan pasar yang semakin ketat. 

"Amunisi kaliber besar seperti 20 milimeter, 40 milimeter, 76 milimeter, 90 milimeter, dan 105 milimeter dibuat di Turen, Malang Jawa Timur. Sejauh ini amunisi berukuran 105 milimeter sudah disertifikasi Kementerian Pertahanan dan TNI AD," kata Dirut PT Pindad Silmy Karim saat menerima Menteri Perindustrian Saleh Husein dan Menteri Perencanaan Pembangunan Nasional/Kepala Bappenas Andrinof Chaniago di Kota Bandung. 

Selain melihat beragam amunisi kaliber besar, Silmy juga mengajak Saleh dan Andrinof meninjau produksi kendaraan tempur Badak dan Anoa. 

Pindad mendapat suntikan modal Rp 700 miliar dari APBN-P 2015, Saleh Husein mengatakan semangat Pindad harus mendapat dukungan semua pihak. Ia mengimbau semua instansi pemerintah memprioritaskan produksi dalam negeri.

(Kompas)