22 November 2014

Krakatau Steel Pasok 98 Persen Baja Militer

22 November 2014


Panser Anoa buatan Pindad saat Peringatan HUT TNI Ke-69 di Dermaga Ujung Armada RI Kawasan Timur (Armatim), Surabaya, Selasa (7/10). Sebanyak 526 alat utama sistem persenjataan (alutsista) dikerahkan pada TNI kali ini antara lain 192 unit alustsista dari TNI AD, 195 alutsista dari TNI AL, dan 139 pesawat dari TNI AU. (photo : Viva)

Jakarta, CNN Indonesia -- PT Krakatau Steel memperbarui kerjasama suplai baja khusus militer dengan PT Pindad. Perjanjian itu ditandatangani di sela kegiatan Indo Defence 2014 di Kemayoran, Jakarta, Rabu (5/11). Sebanyak 98 persen bahan baku pembuatan peralatan militer berasal dari perusahaan baja itu.

Presiden Direktur Krakatau Irvan K. Hakim mengatakan penandatanganan itu adalah pembaruan kerjasama yang sudah berlangsung selama beberapa tahun terakhir. 

“Ini dilakukan dalam rangka menyambut kebutuhan besar untuk alutsista TNI dan kepentingan pertahanan nasional dari Kementerian Pertahanan,” kata Irvan. 

Irvan mengatakan 98 persen bahan baku baja untuk pembuatan kapal cepat rudal TNI, panser buatan Pindad, dan kapal logistik Kementerian Pertahanan, dipasok oleh Krakatau Steel. 

Jadi kami merupakan bagian yang tidak terpisahkan dari Komite Industri Pertahanan. Dalam hal ini, kami bertindak sebagai supplier bahan baku untuk industri ini," kata Irvan kepada CNN Indonesia.

Irvan menjamin kualitas produksi baja untuk Pindad selalu di bawah pengawasan ketat baik Kementerian Pertahanan dan harus memenuhi standar kualitas NATO. Baja khusus Pindad adalah jenis armor steel yang tidak bisa diperjualbelikan secara bebas.  

Untuk memproduksi baja yang antipeluru itu, Krakatau membangun fasilitas produksi tersendiri. “Standar kualitas bukan sesuatu yang bisa ditawar-tawar,” katanya. 

Penandatanganan kerjasama dilakukan oleh Irvan dan Pelaksana Tugas Direktur Utama Pindad Tri Hardjono.

(CNN)

21 November 2014

KD Tun Razak Laksanakan Uji Coba Penembakan Torpedo Black Shark

21 November 2014


Krew-krew bantuan dari Markas Angkatan Kapal Selam (MAKS) TLDM sedang melaksanakan pemunggahan masuk torpedo Black Shark ke dalam KD TRZ. (all photos : TLDM)

Kejayaan Penembakan Torpedo Black Shark Meningkatkan Keyakinan Rakyat


KD TRZ berada pada kedalaman periskop bersedia untuk melaksanakan penembakan torpedo Black Shark (all photos : TLDM)

KOTA KINABALU – Kapal Selam KD TUN RAZAK (KD TRZ) telah berjaya melaksanakan penembakan torpedo Black Shark di Perairan Laut China Selatan (LCS) pada jam 11.13 pagi tadi. Penembakan yang dilancarkan dari aset strategik Tentera Laut Diraja Malaysia (TLDM) ini telah berjaya mengenai sasaran permukaan iaitu sebuah feri penumpang yang telah diubah suai untuk tujuan tersebut. Torpedo yang dilancar pada jarak yang telah ditetapkan ini tepat mengenai dan memusnahkan serta menenggelamkan sasaran tersebut.



Penembakan kali ini telah melakarkan sejarah, apabila buat julung kalinya kapal selam negara melaksanakan penembakan torpedo semenjak kapal selam pertama negara KD TUNKU ABDUL RAHMAN (KD TAR) tiba di Pelabuhan Klang pada 3 September 2009. Selain itu, penembakan ini merupakan penembakan yang julung kalinya bagi torpedo Black Shark semenjak diperkenalkan oleh syarikat pengeluar torpedo Whitehead Alenia Sistemi Subacquei (WASS) dari Itali.



Operasi penembakan ini melibatkan aset bantuan dari perkhidmatan TLDM dan Tentera Udara Diraja Malaysia (TUDM) sebagai aset untuk keselamatan kawasan, tim sasaran, rakaman dan analisis. 



Antara aset TLDM yang terlibat ialah KD JEBAT, KD TERENGGANU, KD KASTURI, KD LAKSAMANA TAN PUSMAH, helikopter Fennec, kapal penyelamat kapal selam MEGA BAKTI dan Bot Tempur CB 90 serta Tim Penyelam, sementara TUDM yang turut terlibat ialah pesawat B 200T dan EC 725.



Setiausaha Bahagian Pembangunan (SUB PEMB) KEMENTAH, Tuan Haji Mohd Shahbudin bin Ibrahim dan Panglima Armada, YBhg Laksamana Madya Dato’ Mohamad Roslan bin Mohamad Ramli hadir menyaksikan penembakan ini dari platform pesawat EC 725 di Perairan Laut China Selatan.



Eksesais penembakan torpedo yang dinamakan Op BARRACUDA 1/2014 ini dikelolakan oleh Panglima Angkatan Kapal Selam, YBhg Laksamana Muda Abdul Rahman bin Hj Ayob selaku Pengarah Eksesais. Kejayaan penembakan ini membuktikan keupayaan saling khidmat (interoperability) antara elemen dalam ATM.



Kejayaan ulung penembaan torpedo Black Shark ini turut mengesahkan keupayaan sebenar kapal selam negara, malah secara langsung telah membuktikan kesiapsiagaannya yang tinggi dalam menghadapi peperangan tiga dimensi iaitu peperangan bawah permukaan, aras permukaan dan anti-udara. Selain itu juga, kejayaan ini dapat meningkatkan keyakinan rakyat kepada Angkatan Tentera Malaysia (ATM) khasnya TLDM dalam mempertahankan kedaulatan maritim negara.

(TLDM)

Vietnam's third Russian Sub to Arrive Next Month

21 November 2014


Third submarine HQ 184 Hai Phong will be delivered to Vietnam next month (photo : tuoitrenews)

The third of six submarines Vietnam purchased from Russia will arrive early next month, Russian news agency Interfax reported.

The HQ-184 Hai Phong completed testing at sea in Kaliningrad and returned to the St. Petersburg-based Admiralty Shipyards, the submarines' manufacturer, on March 2.

Interfax quoted Alexander Buzakov, Admiralty Shipyards’ general director, on Tuesday as saying that the submarine will arrive in Vietnam early next month without specifying how. 

He added that the HQ-186 Da Nang, the fifth submarine in the contract, will also be launched at the shipyard by the end of the year. 

Last March, the HQ 183 Ho Chi Minh City, the second submarine, was delivered to Vietnam’s Cam Ranh Bay by the Dutch-registered cargo ship Rolldock Star. 

The Dutch delivered the HQ 182 Hanoi, the first of the six subs, to Cam Ranh Bay on December 31, 2013. 

The six diesel-electric submarines, which are considered improvements over the older Kilo-class, were bought through a US$2-billion deal signed during a visit by Prime Minister Nguyen Tan Dung to Russia in 2009. 

The contract requires Russia to deliver everything by 2016, train Vietnamese crews and supply necessary spare parts.

(Thanh Nien)

20 November 2014

Navy Renews Push for Sub Plan

20 November 2014


Navy pressed governments for years to buy submarines (photo : enha)

The Royal Thai Navy will dust off a proposal to buy submarines after years of failed attempts to equip itself with the expensive underwater craft. 

Navy chief Kraisorn Chansuwanich revealed the plan on Thursday, which marks Royal Thai Navy Day.

Adm Kraisorn said he had proposed the navy’s latest development plan, which includes the bid to procure submarines, to Deputy Prime Minister and Defence Minister Prawit Wongsuwon during his visit to navy headquarters on Monday. 

Adm Kraisorn said Gen Prawit agreed with the planned procurement of submarines and instructed the navy to present detailed studies on the types of submarines it wanted and the cost to see if they are affordable. 

The navy has pressed governments for years to buy submarines to help protect the Gulf of Thailand.

The bid to equip the navy with submarines began when Banharn Silpa-archa was prime minister in 1995. Back then, Kockums of Sweden were the prime target. But alleged corruption by politicians and middlemen who wanted to pocket money from the project led to the deal being sunk.

Ten years later, the navy renewed its efforts with a proposal to buy used submarines from China under the Thaksin Shinawatra administration. But the military coup on Sept 19, 2006 killed that bid.

In 2010, then navy commander Kamthorn Phumhiran approved a plan to set up a Submarine Squadron, with expectations of having six used German U206A submarines worth a total of 7.7 billion baht. But it was met with resistance and never passed the planning stage. 

In 2012, then navy chief Surasak Rounroengrom approved guidelines to train navy personnel in submarine operations, which led to navy personnel studying submarines with the help of countries who have had them for a long time.

In July this year, the Royal Thai Navy’s Submarine Squadron was officially launched at Sattahip naval base in Chon Buri province. The navy has sent 18 officers to Germany for training in submarine technology and another 10 to South Korea to attend a training course on international diesel submarines.

(Bangkok Post)

Pindad Siap Jadi Pemasok Amunisi Leopard

20 November 2014


Amunisi 120mm untuk MBT Leopard 2 (photo : defense update)

REPUBLIKA.CO.ID,BANDUNG--PT Pindad Persero siap menjadi pemasok amunisi tank tempur utama atau Main Battle Tank (MBT) Leopard buatan Jerman dengan kaliber besar 120 milimeter.

"Kita sudah membeli tank Leopard dari Jerman. Makanya, kita siap menjadi pemasok amunisi tank Leopard. Strategi bisnis kita ubah, siapa saja di Asia yang punya (Leopard), butuh berapa? Kita telah mengirimkan 7 tenaga ahlinya ke Jerman dalam rangka bagian transfer of technology (ToT)," kata Kepala Divisi Munisi PT Pindad I Wayan Sutama di kantornya, Turen, Malang, Jawa Timur, Rabu (19/11).

Guna mempersiapkan pembuatan amunisi berkaliber besar seperti tank Leopard, Pindad telah menyiapkan lahan seluas tiga hektare di Gunung Layar, Malang. Namun dirinya belum bisa memastikan apakah Pindad akan membuatnya secara keseluruhan atau hanya perakitan.

"Kami sedang menggeliatkan, membantu pemerintah, untuk mengurangi impor di bidang amunisi. Ini harapan saya jangan sampai devisa kita terkoyak ke luar. Kami sudah berhasil mendesain meriam Howitzer 105 mm," ujar Wayan.

Menurut Wayan, teknologi laras smoothbore yang diaplikasikan pada Leopard merupakan teknologi baru yang harus melalui alih teknologi agar pengembangan peluru untuk tank 62 ton itu bisa sesuai harapan.

"Tak hanya dalam negeri, jika pasokan peluru untuk Leopard telah terpenuhi, Pindad juga mengincar pasar Asia yang menggunakan Leopard. Pangsa pasar munisi tank Leopard di Asia masih terbatas, hanya ada Singapura dan Indonesia serta Australia," kata Wayan.

Pindad telah memiliki fasilitas pembuatan munisi kaliber besar dan munisi kaliber besar roket di Malang. Industri plat merah ini menargetkan pada tahun 2019 sudah bisa memproduksi kaliber 76 mm, 90 mm dan 105 mm yang memang banyak digunakan oleh pasar internasional dengan keuntungan yang menjanjikan.

"Tapi Pindad harus memenuhi kebutuhan TNI lebih dulu, baru lebihnya bisa diekspor," kata Wayan.

Wayan menerangkan, ke depan, Indonesia jangan sampai bergantung impor. Saat ini perusahaan sedang meningkatkan kualitas dan kuantitas produk alutsista dan menargetkan akan menjadi produsen alutsista terkemuka di Asia pada 2023.

"Kita sudah melaksanakan peningkatan kemampuan produksi dan kemampuan desain serta kapasitas produksi sudah direncanakan tiga tahun. Jadi per 2015, 2019, dan 2023 itu visi Pindad tahun 2023 kita akan menjadi industri alutsista terkemuka di Asia. Karena, kan, setiap tahun desain-desain atau memang kebutuhan dari TNI itu di-review kembali. Hal itu senada dengan UU No 16/2012. Makanya, kami memiliki target, tahun 2023 Indonesia mampu memuncaki industri pertahanan di kawasan Asia," katanya.

Pindad terus memproduksi munisi kaliber kecil yang biasa digunakan untuk pistol, senjata laras panjang, hingga senapan serbu. Untuk memperbanyak jumlah produksi munisi kecil ini, Pindad telah mendatangkan mesin baru dengan teknologi termutakhir.

"Yang munisi kaliber kecil sifatnya umum. Kita sudah memiliki penambahan kapasitas untuk memberi mesin-mesin produksi yang modern. Apabila semua terpasang di 2015, saya bisa melipatgandakan kapasitas produksi kaliber kecil, 140 juta butir per tahun," ujar Wayan.

(Republika)

19 November 2014

Gandeng Indonesia, Rusia Kembangkan Peluru Meriam BMP Terbaru

19 November 2014


Tank BMP-3F marinir TNI AL (photo : Defense Studies)

Industri Rusia dan Indonesia tengah mempertimbangkan kemungkinan untuk mengembangkan peluru meriam 100 mm bagi kendaraan tempur infanteri generasi terbaru milik Rusia, BMP.

“Kami berharap dalam waktu dekat dapat memasuki tahap uji coba konstruksi bersama dengan Indonesia. Hal ini terkait dengan rencana pembuatan peluru meriam baru untuk BMP. Ini benar-benar bidang pekerjaan yang baru bagi institusi kami,” terang perwakilan resmi perusahaan Mechanical Engineering Research Institute (NIMI), salah satu anak perusahaan pemerintah Rusia Rostec, dalam pameran Indo Defence 2014.

“Tahap uji coba konstruksi mencakup pembuatan dokumen teknis grafis dan tertulis peluru meriam baru tersebut yang sesuai dengan spesifikasi dari pihak Indonesia, pembuatan prototip, serta pelaksanaan uji coba,” demikian tertulis dalam siaran pers Kementerian Perdagangan dan Perindustrian Rusia mengutip pernyataan perwakilan NIMI.

Transfer teknologi dan pembuatan pabrik berlisensi di wilayah Indonesia pun bisa menjadi langkah lanjutan yang dapat meningkatkan hubungan kerja sama bilateral. "Pemberian lisensi tersebut akan membantu mempersiapkan kader-kader lokal untuk perindustrian militer Indonesia kelak," ujar perwakilan NIMI tersebut.

BMP-3F adalah kendaraan tempur BMP-3 yang diperuntukan bagi operasi kelautan pasukan marinir, penjaga berbatasan dan garis pantai, pelaksanaan operasi militer di pesisir dan garis pantai, serta pendaratan pasukan amfibi. BMP-3F dipersenjatai oleh meriam 100 mm, senapan kaliber 30 mm, rudal, dan senapan mesin. BMP dirancang untuk dikendalikan tiga awak dan mengangkut tujuh orang.

Rusia memiliki catatan positif dalam upaya pengembangan senjata bersama dengan negara lain, salah satunya adalah kerja sama perusahaan asal Rusia Bazalt dengan Yordania, yang telah menghasilkan peluncur granat Khoshim. Selain itu, Rusia juga sukses bekerja sama dengan India dalam proyek pembuatan roket Bramos. Hal itu tertulis dalam situs resmi Kementerian Perindustrian dan Perdagangan Federasi Rusia.

(RBTH)

BRP Artemio Ricarte Getting P249.6M Upgrade

19 November 2014


BRP Artemio Ricarte PS-37 corvette (photo : US Navy)

BRP Artemio Ricarte (PS-37), one of the three Emilio Jacinto-class patrol corvettes, is getting a marine engineering upgrade worth PhP249,671,000 as part of Armed Forces of the Philippines Modernization through the Department of National Defense to ensure combat readiness and seaworthiness of current assets of Philippine Navy.

The said marine engineering upgrade is the second phase of upgrade. Phase one which was completed in 2005 consisted of brand-new M242 Bushmaster 25mm-cannon installation, upgrade of Command and Control & Fire Control Systems. Raytheon Gyro Compass, Sperry Marine Naval BridgeMaster E Series Surface Search Radar, GPS, Anemometer, and EM logs were also integrated in the system of BRP Ricarte.

On the second phase, the ship’s hull will be repaired and undergo remediation. Main propulsion system will be overhauled and improved including control and monitoring systems, electrical plant, and auxiliary systems.

BRP Ricarte is also armed with an Oto Melara 76-mm gun.

The three Jacinto-class patrol corvettes previously served the Royal Navy for Hong Kong as Peacock-class patrol vessels. However, in 1997, when sovereignty of Hong Kong was transferred to China from United Kingdom, three Peacock-class vessels were sold to Philippine government as sign of good-will.

(AngMalaya)